Cara Mendapatkan data melalui 

Wawancara

Seperti telah dipahami bahwa dalam penelitian kualitatif peneliti adalah sekaligus instrument.

Komunikasi yang baik adalah interaksi yang terencana, dan interviu dilakukan untuk mendapatkan informasi atau data yang diperlukan sesuai dengan tujuan penelitian.

Sebagai penginterviu Anda berupaya agar kata-kata responden berhamburan, nyerocos atau “making words fly” dalam metafora Gleshne & Peshkin (1988). Namun harus dirancang dengan cermat, agar yang terhambur itu bukan berondong omong kosong, atau yang tidak terkait dengan tujuan penelitian. Artinya, Anda hanya mengajukan pertanyaan yang relevan dan perlu saja.

Pedoman untuk mengajukan pertanyaan yang baik:

  • Topic yang pasti
  • Pertanyaan sesuai topic
  • Pertanyaan yang tuntas
  • Responden yang tepat
  • Pemilihan waktu yang baik
  • Transkripsi sesegera mungkin

Menyusun Pertanyaan

Diagram 10.1 EVOLUSI PERTANYAAN INTERVIU

 

 

 

 

 

 

Diagram di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Pertanyaan final yang diajukan kepada responden itu telah diuji coba terlebih dahulu dalam sebuah pilot study. Dalam proses uji coba ini, Anda mengetes pertanyaan, mengetes cara Anda mendekati responden secara umum dan khusus. Mintalah agar responden itu bersikap kritis terhadap uj coba ini, sehingga ia tidak sekadar menjawab pertanyaan karena tujuan menginterviunya bukan untuk mengumpulkan data, tetapi menguji coba kemantapan pertanyaan.
  • Yang diuji coba itu baru sekadar draf pertanyaan yang Anda kembangkan dengan menghubungkan semua pertanyaan penelitian denga tiga hal, yaitu: (1) teori yang relevan dengan persoalan; (2) obrolan tidak formal dengan berbagai pihak di lapangan; atau (3) pengamatan empiris di lapangan.

 

 

 

Taylor & Bogdan (1984) menyebutkan lima hal yang diperhatikan sebelum melakukan interviu, yaitu:

  • Motif, tujuan, atau niat peneliti sebagaimana dikalimatkan dalam tujuan penelitian. Peneliti hanya mengumpilkan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Interviu pada dasarnya adalah menerjemahkan tujuan penelitian itu kedalam seperangkat pertanyaan yang terukur dan komunikatif sehingga responden bersedia berbagi pengetahuan dan pengalamannya.
  • Perlindungan terhadap responden yang mungkin tidak menghendaki namanya diketahui umum. Perlu ada kesepakatan apakah namanya akan disebut, diganti dengan nama samaran, atau tidak disebut sama sekali.
  • Menentukan siapa yang pada akhirnya memberikan ‘kata akhir’ ihwal isi penelitian yang sedang dilakukan. Dalam penelitian antropologi peran informasi kunci (key informant) sangat menentukan hasil penelitian. Para informan kunci adalah orana-orang tertentu yang memiliki posisi, pengetahuan dan pengalaman khusus, dan kemampuan berkomunikasi.
  • Pembayaran (renumeration) bagi respondan, jika perlu dan ada dananya. Sesungguhnya ada kepuasan tersendiri bagi responden yang diinterviu, yaitu: (1) kesempatan untuk melahirkan segala uneg-uneg kepada orang lain yang rancage (kreatif) meneliti; (2) diinterviu itu sendiri merupakan kebahagiaan tersendiri. Terpilih sebagai responden mengindikasi dirinya sebagai orang penting.
  • Perencanaan atau logistic yang menyangkut waktu, tempat, da jumlah interviu.

Kelima hal diatas dalam di atas dalam penelitian kualitatif akan terintegrasi dalam metodologi yang berkarakter emerging bukan predesign, yakni mencuat bukan dibuat.

Sementara itu Lincoln & Guba (1985) menyebut lima langkah penting dalam melakukan interviu, yaitu:

  1. Menentukan siapa yang akan diinterviu;
  2. Menyiapkan bahan-bahan interviu;
  3. Langkah-langkah pendahuluan;
  4. Mengatur kecepatan menginterviu dan mengupayakannya agar tetap produktif;
  5. Mengakhiri interviu (Lincoln & Guba, 1985: 270-1).

Jenis-jenis Pertanyaan

Pertanyaan yang diajukan dapat diklisifikasikan berdasarkan fungsi, substansi, dan sebagainya. Dilihat dari fungsinya, ada tiga jenis pertanyaan yang diajukan kepada para responden, yakni: (1) pertanyaan pendahuluan sebagai kulo nuwun untuk menumbuhkan kepercayaan; (2) pertanyaan luas atau grand tour question (Spradeley:1979), yakni pertanyaan sebagai kerangka umum; dan (3) pertanyaan spesifik ihwal substansi penelitian, yaitu persoalan pokok yang digali.

 

 

 

Berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan umum, Anda mengembangkan sejumlah pertanyaan yang lebih spesifik.

Dari sudut substansi atau jenis informasi yang ditanyakan, Patton (1980) membedakan enam pertanyaan sebagai berikut:

  • Pertanyaan pengalaman (experience/behavior)
  • Pertanyaan opini atau nilai (opinion/value)
  • Pertanyaan perasaan (feeling)
  • Pertanyaan pengetahuan (knowledge)
  • Pertanyaan sensori (sensory)
  • Pertanyaan latar belakang atau demografi (background/demography)

 

Pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengungkap hubungan lokasi dari responden terhadap orang lain, khususnya yang menyangkut usia, pendidikan, ras, tempat tinggal, mobilitas, dan sebagainya.

Dari sudut logika pertanyaan , Merriam (1988) dengan mengutip Strauss, dkk membagi pertanyaan interviu ke dalam empat kelompok pertanyaan  sebagai berikut:

1)      Hipotesis,

2)      Pembangkangan,

3)      Ideal,

4)      Interpretasi.

 

Dari sudut logika pertanyaan, Denzim (1988:73) ada empat asumsi yang mendasari interviu jenis tersebut, yaitu:

1)      Para responden memiliki kosakata yang sama.

2)      Pertanyaan dibuat sedemikia rupa sehingga bermakna (atau dimaknai) sama oleh setiap responden.

3)      Bukan hanya pertanyaannya yang seyogianya dimaknai sama oleh setiap responden, tetapi konteks pertanyaannya pun harus sama bagi setiap responden.

4)      Ketiga asumsi tersebut di atas hanya mungkin dipenuhi bilamana terlebih dahulu ada penelitian pendahuluan atau pilot investigation.

Beberapa alasan yang menyebabkan interviu lebih bersifat terbuka atau kurang terstruktur:

1)      Tujuan interviu dalam studi kualitatif bukan untuk menuangkan gagasan penelitian (misalnya kategori-kategori) dalam otak responden (melalui instrumen yang terstruktur), melainkan justru untuk mengakses persepsi responden. Untuk itu, interviu harus terbuka.

2)      Format interviu terbuka didasarkan pada asumsi bahwa setiap responden sebagai individu adalah makhluk unik yang sulit untuk digeneralisasikan lewat penyeragaman instrumen.

3)      Peneliti kualitatif tidak berangkat dari hipotesis yang telah di tentukan tapi senantiasa mengeksplorasi banyak hal dan situasi lewat tahapan-tahapan. Karena itu format interviu berbeda untuk setiap kasus.

 

Mahasiswa disarankan untuk berlatih antara lain,  melalui main peran, kritik sejawat, melihat rekaman video, dan mengobservasi bagaimana orang lain menginterviu.

 

Interaksi dengan Responden

Sebagai seorang peneliti kkta harus mampu membangun hubungan baik dengan responden. Menurut Dexter (1970) hubungan ini ditentukan oleh tiga hal yaitu:

  1. Kepribadian dan keterampilan penginterviu,
  2. Sikap dan orientasi yang diinterviu,
  3. Defnisi kedua orang tersebut ihwal situasi.

Tempat, Waktu dan Trasnkripsi

Tiga aspek ini penting dipersiapkan demi kelancaran suatu interviu. Sebagai peneliti, kita harus membuat janji dimana responden siap untuk diwawancarai. Apabila di perlukan perulangan interviu, maka kita harus perhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Lama interviu,
  2. Minat responden pada pembicaraan,
  3. Kefasihan berbicara,
  4. Keterampilan peneliti menginterviu.

Cara mencatat hasil interviu bisa dilakukan dengan mencatatnya dengan tangan, merekamnya dengan kaset audio atau video. Ini semua harus sepengetahuan responden sebelumnya.

Selesai menginterviu seyogyanya kita mengucapkan terima kasihkpada responden dan kemungkinan kembali untuk menginterviunya lagi untuk keperluan member check, yaitu konfirmasi yang bersangkutan atas hasil wawancara sebelumnya. Mungkin kita bisa memberikan souvenir seperti ballpoint, lukisan, gantungan kunci, buku, atau bahkan laporan hasil penelitian terkait sebagai bukti penghargaan kepadanya.

Selanjutnya adalah transkripsi. Selesai menginterviu seorang responden, kita harus segera mentranskripsinya. Kita harus menyediakan 4-5 jam untuk mentranskripsi hasil rekaman pada kaset ukuran 90 menit.

 

 

 

Apakah Anda Penginterviu yang Baik ?

Penginterviu yang baik harus melengkapi atribut sebagai berikut:

  • Penuh antisipasi (Anticipatory)
  • Melakukan kulo nuwun (Alert to Establish Rapport)
  • Naïf (Naive)
  • Analitis (Analytic)
  • Paradoks: Mendominasi tapi juga menyerah (Paradoxically Bilateral: Dominant but also Submissive)
  • Tidak Reaktif, Tidak Directif, dan Terapetik (Nonreactive, Nondirective, and Therapeutic)
  • Sabar Mengejar Data (Patiently Probing).

 

Kelebihan Dan Kekurangan Interviu

  • Kelebihan Interviu:
  1. Kemungkinan terjadi kesalahpahaman antara penginterviu dan responden sangat sedikit,
  2. Pengiterviu dapat leluasa memparafrase pertanyan yang kurang dimengerti,
  3. Responden memberikan respon secara langsung sehingga komunikasi lebih alami dan informasi semakin kaya,
  4. Setiap saat penginterviu dapat meminta responden untuk lebih menjelaskan atau mengevaluasi persoalan yang ditanyakan.
  5. Ranah pembicaraan dapat diperlebar sesuai kebutuhan terutama sewaktu menginterviu responden elit.
  • Kelemahan Interviu:
  1. Tidak efisiennya waktu dan tenaga.
  2. Sulit melakukan pretes bagi materi interviu.
  3. Karena fleksibilitas yang tinggi itulah informasi dari beberapa interviu bisa menggunung sehingga tidak tetkendali dan peneliti bisa tersesat.
  4. Responden yang berkarakter ‘banyak omong’ dan senang diskusi akan merepotkan penginterviu karena ia akan menambah ke mana-mana yang tidak menjadi target pembicaraan.
  5. Karena interviu tidak terstruktur itu mengandalkan sedikit responden, informasi yang didapat menjadi sangat terbatas, kasuistis, spesifik; sehingga kebenarannya sulit disamaratakan bagi responden lain terutama pada konteks lain.
  6. Kebenaran informasi hasil interviu sulit diuji ulang karena interviu sulit direplikasi, berbeda dengan tes baku pada penelitian kuantitatif.
  7. Penginterviu dapat mendominasi responden dan mempengaruhinya, sehingga hasilnya tidak lebih sekadar anggukan ‘ya’ bagi apa yang dikehendaki peneliti.

 

 

Observasi

Metode yang paling utama dalam penelitian kualitatif adlah interviu dan observasi. Istilah fieldwork dan field study terutama merujuk pada kedua kegiatan ini dan terkadang mencakup analisis dokumen (documentary analysis). Observasi berbeda dengan interviu dalam dua hal. Interviu dilakukan pada latar yang direncanakan, sedangkan observasi peran serta (participant observation) dilakukan pada latar yang alami. Data yang diperoleh melalui interviu disebut data sekunder, sedangkan data dari observasi disebut data primer.

Definisi

Observasi penelitian adalah pengamatan sistematis dan terencana yang diniati untuk perolehan data yang dikontrol validitas dan reliabilitasnya.

Diagram Faktor Penentu Fokus Observasi

 

 

 

 

 

 

Observsi perlu dilakukan dalam penelitian kualitatif sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:

  • Perilaki responden secara alami sesungguhnya adalah manifestas kode dan aturab dalam suatu budaya, bukan sekedar rutinitas cultural.
  • Tugas peneliti kualitatif adalah mengeksplisitkan aturan dan k ode itu sesuai dengan konteks keterjadian tingkah laku dalam persepsi emik para responden.
  • Budaya adalah penget ahuan dan pengalaman kolektif para anggotanya. Untuk berfungsi maksimal suatu budaya, setiap anggota masyarakat mesti mempraktekkan rutinitas budaya sesuai dengan aturan-aturan tadi.

 

 

 

Apa yang Mesti Diobservasi?

Dari para Begawan etnografi, Merriam (1988:90-91) menyarikan lima unsur terpenting yang mesti ada dalam setiap observasi, yaitu sebagai berikut:

  • Latar (setting): merujuk pada aspek fisik dari latar.
  • Pelibat (participant)
  • Kegiatan dan interaksi (activity and interaction)
  • Frekuensi dan durasi (frequency and duration)
  • Factor sustil (subtle factor).

Spradley (1980: 105-106) mengajukan lima criteria untuk memilih focus etnografi, yaitu:

  • Minat pribadi (personal interest)

Bagi peneliti pemula focus yang diobservasi bisa apa saja sesusai dengan minat pribadi.

  • Saran dari informan (suggestion by informants)

Setelah menginterviu informan atau responden, peneliti seringkali mendapat petunjuk untuk melakukan observasi untuk memperkaya data.

  • Minat teoritis (theoretical interest)

Setelah membaca literature terkait (review of the literature) dengan tema penelitian Anda akan memiliki gambaran au kesimpulan teoritis ihwal tema tersebut. Berdasarkan kesimpulan itu, Anda kemudian berkecenderungan untuk memfokuskan observasi pada aspek tertentu.

  • Etnografi strategis (strategic ethnography)

Ini mrujuk pada situasi dimana focus observasi diidentifikasi setelah peneliti terjun ke lapangan.

  • Ranah penghimpunan (organizing domain)

Dalam setiap kegiatan lazim ada ranah yang bila dipahami, akan memudahkan pemahaman kegiatan secara keseluruhan.

Keterlibatan Peneliti: Suatu Kontinum

Istilah observasi berperan serta (participant observation) mengindikasi keterlibatan peneliti sewaktu melakukan observasi sejauh mana peneliti terjun kelapangan melakukan observasi, apakah sekadar mengobservasi atau berpartisipasi.

Dalam kontinum itu Merriam (1988: 92-93) mengidentifikasi empat kategori pengobservasi sebagai berikut:

  1. Peserta penuh (complete participant): Peneliti sebagai anggota kelompok yang sedang diamati. Ia menyembunyikan identitas dirinya sebagai pengamat (peneliti).
  2. Peserta sebagai pengamat (participant as observer): peran peneliti sebagai pengamat diketahui oleh kelompoknya, dan kegiatannya kurang dominan jika dibandingkan dengan dirinya sebagai peserta kelompok. Untuk mendapat informasi mendalam dari kelompoknya, peneliti haru smenjamin kerahasiaan kelompok ini.
  3. Pengamat sebagai peserta (observer as participant): peneliti sebagai pengamat diketahui kelompok yang diamati. Partisipasinya dalam kelompok kurang dominan dibanding dengan perannya sebagai pengamat. Pengamat mendapat akses untuk mendapatkan informasi dari kelompok, namun informasi itu tetap ada dalam kendali kelompok.
  4. Pengamat penuh (complete observer): pengamat tersembunyi sehingga responden tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diamati.

Namun, pada kenyataannya seringkali sulit bagi peneliti untuk terjun langsung menyatu dalam kelompok seperti dibahas di atas.

Suasana Psikologis Saat Mengobservasi

Saat melakukan observasi sebaiknya pada pihak responden harus diantisipasi kemungkinan lain:

  • Karena merasa dirinya sedang dievaluasi, responden dapat berperilaku “tidak seperti biasanya”. Ia berupaya menyesuaikan diri dengan norma yang diharapkan peneliti.
  • Asupan (feedback) dari peneliti mungkin mempengaruhi cara responden berperilaku, sehingga kehadiran peneliti sejauh tertentu ‘mengatur’ perilaku responden.

Akan tetapi hal tersebut di atas kemungkina terjadi cukup kecil jika memperhatikan hal berikut ini:

  • Pertama, para antropolog berkeyakinan bahwa adat kebiasaan yang sudah berurat-berakar pada suatu masyarakat tidak mungkin berubah karena kehadiran peneliti.
  • Kedua, para peneliti kualitatif berkeyakinan adanya interpendensi antara peneliti dan responden. Bukan hanya responden yang mungkin terpengaruhi peneliti, tetapi juga peneliti mungkin terpengaruh oleh responden (Paton, 1980). Itulah karakteristik alami dalam komunikasi dan inilah kekhasan peneliti naturalistis.

Membuat Catatan Observasi

Dalam penelitian kualitatif sudah dikenal beberapa alat pencatat yang lazim dipergunakan yaitu catatan lapangan (field log): bentuknya beragam sesuai dengan selera peneliti. Fungsinya adalah untuk catatan ihwal observasi.

Untuk memudahkan mengingat kembali, peneliti disarankan oleh Taylor dan Bogdan (1984) untuk melakukan hal-hal berikut ini:

  • Berkonsentrasilah saat melakukan observasi,
  • Pindahkan focus dari wide angle ke narrow angle untuk mencermati focus tertentu dan terpenting,
  • Ingat dan catatlah kata-kata kunci dalam pentuturan responden,
  • Berkonsentrasilah pada ungkapan pertama dan terakhir dari setiap responden,
  • Saat istirahat secara mental, rekonstruksi kembali segala pentuturan dan kejadian.

Ada dua jenis catatan yang harus dibust peneliti:

  1. Deskripsi, dan
  2. Analisis atau komentar pengamat (observer’s comment).

Catatan lapangan lazimnya terdiri dari empat hal, yakni:

  • Deskripsi verbal dari latar, orang, dan kegiatan,
  • Kutipan langsung dari respoden, atau paling tidak substansinya,
  • Komentar (perasaan, kesimpulan, atau hipotesis) dari peneliti pada margin sebelah kiri atau kanan, dan (saya menambahkan),
  • Koding dan catatan-catatan idiosinkratik peneliti-mungkin dengan warna-warni tinta untuk memudahkan kategorisasi.

Bila ada dananya, Anda disarankan untuk memvideo kegiatan observasi,yang bisa ditonton berulang-ulang dan juga bisa sebagai pelengkap hasil observasi. Dan juga mengambil beberapa foto kegiatan yang perlu disertakan dalam tesis atau disertasi. Gleshne & Peshkin (1992: 49-50) memberikan enam petunjuk sebagai berikut:

  1. Sewaktu mencatat, gunakanlah satu muka, jangan bolak-balik.
  2. Sisakan margin kiri atau kanan yang cukup luas untuk koding dan catatan yang muncul kemudian (afterthought).
  3. Kembangkanlah system steno Anda sendiri untuk mempercepat pencatatan.
  4. Jangan mendiskusikan ctan lapangan dengan siapapun kecuali Anda telah tuntas dengan laporan lapangan.
  5. Walaupun catatan lapangan sudah tuntas, coba baca kembali dengan cermat dengan memberikan tambahan komentar dan koding untuk kepentingan kategori.
  6. Sekali-sekali datanglah ke latar penelitian bukan untuk kegiatan terjadwal.

           Kelebihan dan Kekurangan Observasi

                        Peneliti kualitatif menggunakan observasi sebagai teknik pengumpulan data karena kelebihan-kelebihannya antara lain sebagai berikut:

  • Peneliti menyaksikan secara langsung apa yang terjadi, dan merupakan tes kebenaran yang paling alami,
  • Peneliti dapat mencatat kebenaran yang sedang terjadi,
  • Observasi meningkatkan pengumpulan data yang tidak mungkin dilakukan oleh teknik lain.

Walau demikian, ada juga beberapa kelemahan observasi, antara lain:

  • Reaktivitas peneliti pada lingkungan dan interpretasi paneliti yang mungkin sangat dipengaruhi oleh biasnya.
  • Observasi juga dihujat inkonsisten dalam struktur metodenya sehingga sulit untuk direplikasi untuk membuktikan kebenarannya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s